Rabu, 15 Februari 2017

Menelusuri Lapak-lapak Buku Tua (Bagian Kedua)

Oleh: Nanang Fahrudin

Tuhan Maha Baik. Saya selalu bersyukur bisa dipertemukan dengan buku. Perjalanan hidup tak bisa ditebak. Terkadang kita ingin sekali dekat dengan sesuatu, tapi oleh Tuhan malah dijauhkan. Tapi sebaliknya, kita kadang tak ingin dekat dengannya, malah didekatkan kepada kita. Begitulah. Tapi saya benar-benar bersyukur. Buku menjadi sesuatu yang selalu hadir. Benar-benar menjadi pelepas, menjadi objek wisata, menjadi kawan. Padahal, di masa kecil saya, buku hanyalah impian belaka.

Tapi kenapa harus buku-buku bekas dan tua? Saya tak bisa menjawab pasti. Mungkin karena saya menyukai segala hal yang bernuansa tempo doeloe. Saya menyukai mengumpulkan perabot rumah yang jadul-jadul. Meja jadul, kursi tua, almari tua, setrika arang, dan barang-barang lain yang mungkin usianya 100 tahun. Nah, mungkin itu kemudian juga terjadi pada buku.

Ketika menjadi redaktur koran Sindo tahun 2010 an di Jakarta, saya sering ke Pasar Senen untuk mencari buku-buku bekas murah. Lapak-lapak buku bekas saya sambangi hampir setiap hari. Berharap surprise ketika saya menemukan satu buku langka dari tumpukan buku bekas tersebut. Seingat saya, pertama kali ke Senen saya diantar oleh kawan Helmi Firdaus (almarhum), sesama jurnalis Sindo yang kemudian pindah ke CNN Indonesia dan kemudian dipanggil Tuhan lebih dulu.

Memang lapak buku bekas memiliki nilai lebih dibandingkan dengan toko buku macam Gramedia atau Togamas. Di toko buku modern, kita tinggal search di komputer untuk mencari buku yang kita cari. Tapi di lapak buku bekas, kita harus mencari sendiri buku-buku yang cocok dengan kita. Terkadang, saya sudah muter mencari, membongkar-bongkar, namun tetap saja tak mendapatkan “buku bagus”. Kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Saya meyakini hari itu bukan rejeki saya.

Di Senen ada dua tempat lapak-lapak buku bekas. Yakni di lantai 4 gedung Atrium Senen dan di pinggir terminal Senen. Jarak antara keduanya tinggal jalan kaki saja. Ada buku-buku lawas yang saya dapatkan di dua tempat ini. Saya tak bisa menyebutkan semuanya. Namun, salah satu yang saya ingat adalah buku tertalogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Lumayan, harganya cuma Rp50.000/eks.

Di Jakarta, saya juga jadi kecanduan belanja buku online. Hampir tiap malam, selepas ngedit berita, saya berselancar mencari buku. Saya membeli di Stalinebook, Bukukita, Khatulistiwa, Bukabuku, dan entah mana lagi. Saya tak ingat semua. Siang, sering saya mencari-cari info, menelpon Solichan Arif (wartawan Sindo di Blitar) dan teman-teman lain mengobrol tentang buku-buku hits dan buku-buku langka yang berkualitas. Lalu, saya hunting buku-buku yang kami obrolkan tersebut. Hampir semua buku Iwan Simatupang dan Mochtar Lubis saya dapatkan dari berburu di lapak-lapak online tersebut.

Saya semakin sadar bahwa dunia buku sangat luas. Sangat sangat luas. Kau hendak membaca buku apa, tinggal cari. Hanya duit yang bisa membatasi kehendakmu. Kau pasti setuju kan?

Lalu, ketika pindah ke Kota Surabaya, intensitas saya berjumpa dengan buku lawas semakin tinggi. Seperti sudah menjadi jadwal rutin, saya setiap hari pergi ke Jalan Semarang dekat stasiun Pasar Turi, masuk ke Kampung Ilmu dan memesan kopi di warkop tengah. Satu persatu tumpukan buku saya sambangi, saya bongkar, lalu saya pilih-pilih. Tak butuh lama, buku-buku itu tertumpuk di kamar kos. Manfaat lain berburu buku di Surabaya adalah saya kenal hampir semua pedagang di Kampung Ilmu. Setidaknya kami saling menyapa saat berpapasan dan kalau dia punya buku baggus pasti ditawarkan.

Lantaran banyak mendapatkan buku dan dipesan teman-teman, akhirnya saya didorong seorang teman untuk sekalian berjualan buku. Saya pun membuka lapak buku bekas online tahun 2011. Saya lebih banyak menjual via blogspot: bukulawasonline.blogspot.com. Lantaran saya gaptek alias gagap teknologi, blogspot dan template dibuatkan oleh seorang sahabat Sofian J. Anom. Saya tahunya dapat pasword dan cara mengoperasikannya. Terimakasih Kang!

Seingat saya, waktu 2011 belum banyak penjual buku online yang lawasan. Dan buku-buku di Jalan Semarang Surabaya dan Kampung Ilmu Surabaya begitu banyak. Saya tiga kali mendapatkan buku Abangan, Santri dan Priyayi karya Clifford Geertz terbitan Pustaka Jaya yang hard cover. Dua diantaranya saya jual. Kalau tidak salah, saya menjual dibawah Rp100.000. Buku-buku Pramoedya Ananta Toer banyak saya dapatkan dari hunting di Surabaya.

Sekitar tahun 2013, pedagang buku online sudah cukup ramai. Saya mulai berjalan mundur, tak terlalu serius di online. Lalu membuka lapak buku offline di Bojonegoro. Lapak buku itu bernama “Kobuku”, sebuah bangunan kotak kecil ukuran sekitar 6 x 3 meter. Tapi, Kobuku tidak berumur panjang. Mungkin hanya setahun saja, lalu tutup. Mengurus Kobuku, saya sangat dibantu oleh seorang kawan, Mohamad Tohir. Meski Kobuku tutup, saya senang pernah memilikinya. Dan masih menyimpan mimpi untuk membukanya kembali.

Punya Kobuku dan berada di Bojonegoro, tak lantas membuat saya menutup toko online. Saya tetap mempertahankannya. Meski kalau soal persaingan, saya tentu kalah dengan penjual-penjual online yang tinggal di kota besar. Karena mereka lebih dekat dengan sumber buku. Kebanyakan buku berada di Surabaya, Malang, Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Sedang saya berada di Bojonegoro, 100 km dari Surabaya. Tapi, saya seperti tak mempedulikan itu. Saya tetap lanjut saja. Karena hobi saja.

Dengan uang pas-pasan, saya sering ke Lamongan, menuju lapak-lapak buku bekas di dekat kantor Samsat. Di sana, saya beberapa kali menemukan buku bagus. Diantaranya buku Menunggu Godot terbitan Bentang sebanyak 10 eksemplar. Terkadang, hanya mengantongi uang Rp 300.000, saya nekat ke Surabaya untuk mencari buku-buku lawas untuk saya jual kembali. Saya tidak tahu hitung-hitungan bisnis, karena saya hanya tahu bahwa saya menyukai buku. Itu saja.

Menulusuri lapak-lapak buku lawas di Jakarta, Lamongan, dan Surabaya sepertinya kurang lengkap jika tak ke Malang. Beruntung saya mempunyai keponakan yang mondok di Malang. Dan saat menjemput keponakan atau saat mengambil raport, saya yang akan berangkat. Saya pun selalu menyempatkan mampir di lapak-lapak buku di Jalan Wilis. Hampir semua pedagang buku bekas mempunyai karakter sama, yakni harga tak ada patokan. Ada pedagang yang melepas bukunya dengan harga murah, ada yang mematok harga selangit. Dan itu wajar di dunia buku bekas.

Guna melengkapi jalan-jalan di lapak buku bekas, saya juga ke Pusat Buku Taman Pintar. Orang-orang menyebutnya Shoping. Terlebih saat saya banyak beraktivitas di Yogyakarta akhir-akhir ini. Bangunan Shoping hampir sama dengan Pusat Buku Wilis di Malang. Yakni berupa toko-toko kecil mirip pasar modern. Kebetulan sejak Februari 2016 saya bekerja di kawasan Umbulharjo, dan lokasinya dekat dengan lokasi shoping.

Namun, dari semua tempat jualan buku bekas, sepertinya Surabaya paling berkesan. Lokasinya yang luas dan penataan mirip taman membuat saya betah berlama-lama di Kampung Ilmu. Ditambah pada waktu-waktu tertentu di pendopo ada latihan tari, membuat suasana semakin memikat. Terkadang terbersit keinginan untuk berumah di Kampung Ilmu. Alangkah indahnya. (Haha....angan-angan tak kesampaian)

Ya, buku selalu menarik untuk dikunjungi. Di manapun saya tinggal, saya selalu berusaha menemukan buku di daerah terdekat. Kalau lapak buku bekas tidak ada, toko modern macam Gramedia pun tak apa-apa. Setidaknya hal itu mengobati rasa ingin melihat buku. Seperti saat di Tangerang. Meski tak lama singgah, namun entah kenapa dorongan melihat toko buku selalu lebih besar. Saya pun ke Teras Kota dan masuk ke Gramedia. Buku berjudul Out of The Truck Box karya Iqbal Aji Daryono saya beli di mall ini.

Ah, sudah dulu. Menelusuri buku dan membincangnya tak pernah selesai. Saya menambahi sedikit saja sebagai akhir tulisan ini. Saya pernah bekerja di tengah laut jawa hampir dua tahun. Hal itu membuat saya benar-benar berhenti dari berjualan buku. Saya hanya menjadi konsumen, dan banyak membeli buku via online. Buku-buku itu menumpuk di rumah, dan sebagian tak sempat saya baca. Dan kini, ketika di Jogja, saya mencoba menata ulang berjualan buku via blogspot maupun facebook: nun buku.


Dan ini bagian paling akhir. Begini, dari semua tempat lapak buku yang saya datangi, Surabaya, Malang, Jakarta, Yogyakarta, ternyata saya tetap menyukai Surabaya. Kenapa? Tempat ngopine luwih enak. Haha. (bersambung)

1 komentar:

Amisha mengatakan...

Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut

 
© Copyright 2035 godongpring